Jam di tangan
menunjukkan pukul 18.30,
namun matahari belum juga akan terbenam. Beberapa saat
kemudian aku
baru sadar, ini adalah
waktu Indonesia tengah alias WITA, padahal aku sedang
berada di Jakarta. Kota ini termasuk wilayah waktu Indonesia barat (WIB). Hari ini,
tepat pasca semua rangkaian kegiatan selama dua hari berakhir, kuputuskan untuk
keluar dari zona nyaman di hotel berbintang kelas ibu kota, meski jatah
menginap masih satu malam lagi. Aku ingin pergi ke Depok, mengunjungi seorang teman
yang sedang menuntut ilmu di salah satu di PTN terbaik di negeri ini.
Hasil
rekomendasi terbaik yang disarankan satpam hotel, aku harus naik kereta. Jenis
tranportasi ini yang paling mudah dan laik yang dia ketahui. Selain
stasiunnya dekat dengan hotel, transportasi ini juga belum
pernah aku coba. Atas pertimbangan
itu, kutetapkan hati untuk naik kereta. Selama ini, pengalamanku
menggunakan transportasi umum di Jakarta
selalu berakhir bersama bus Damri dan ojek saja. Sepuluh menit jalan kaki dari hotel, stasiun yang di informasikan
sang satpam berhasil kutemukan. Stasiun Gondangdia, namanya.
Memori otak ini
pun terkenang beberapa tahun silam, saat Bunda bercerita ihwal kereta api.
Berdasar kesaksiannya, ketika usiaku tiga tahun, aku sudah mempunyai pengalaman
menumpang kereta api. Tetapi, peristiwa itu sudah lama berlalu dan sekadar
nostalgia belaka. Sesampai di stasiun, sebagai orang yang kehilangan
pengalaman pernah menaiki kereta api, langkah pertama adalah mencari tempat
yang sepi, menyaksikan bagaimana cara setiap calon penumpang mendapatkan tiket
kereta, sekaligus istirahat sejenak, sambil memijit otot kakiku yang agak kaku.
Selama ini, suasana Jakarta yang berkelebat
di otakku adalah gambaran sebuah kota yang penuh kekerasan, egoistik, tamak, dan
penuh tipu muslihat di sana-sini. Sedangkan stasiunnya berkesan sebagai sarang penipu
kelas teri
dan tempat para penyamun (preman) berkeliaran, seperti sama halnya di sekitar
terminal, begitu teror seorang teman.
Sikap
ke-hati-hatian dan
parno ini, agak berlebihan memang, karena ternyata, begitu
mudahnya mendapatkan tiket, dan tak berapa lama sampailahku naik transportasi
ini. Suasana kereta yang adem dan agak longgar memberikan pengalaman berbeda
menggunakan transportasi di
Jakarta. Gambaran penumpang kereta yang penuh, berjubel, berdesak-desakan dan
panas yang sering di beritakan di media massa dan media elektronik tak juga aku jumpai. Sampai detik ini, bad new is good new makin mendapat pembenaran dalam batinku.
Kesan
kenyamanan yang baru saja terasa sepersekian detik langsung sirna, jauh dari
gambaran yang terbayangkan, pada pemberhentian kereta di stasiun berikutnya,
dan saat pintu kereta terbuka, langsung tumpah-ruahlah para penumpang masuk, berdesakan
baik dari arah depan maupun belakangku, dan itu terus terjadi di setiap stasiun.
Bagi para penumpang yang sudah terbiasa dengan kondisi saling dorong, berjejalan
dan menikmati panasnya suhu di dalam kereta ini, pastilah hal yang lumrah. Setidaknya
terlihat dari raut wajah mereka. Namun bagiku, hal ini suatu yang luar biasa, alias di luar
kebiasaan normalku dan detik ini juga aku ikrarkan tak akan lagi naik kereta
kecuali dipaksa, bukan karena terpaksa. Dan sampai detik itu, aku berpikir bahwa kereta api bukanlah moda transportasi
yang bersahabat. Satu jam berlalu, setelah saling berdesakan, akhirnya sampai
juga di Stasiun Depok. Di stasiun ini temanku ternyata telah lama menunggu kedatanganku.
***
Sehari berlalu
setelah kunjungan ke tempat teman, pada malam hari menjelang kepulangan, aku katakan
kepadanya, bahwa
kapok naik kereta api. Kejadian
nestapa yang kualami kemarin itu, aku ceritakan padanya. Dia agak terkejut dan heran. Kami pun
mendiskusikan transportasi alternatif yang lebih nyaman untuk kepulanganku
besok harinya. Keesokan harinya, keputusan
akhirnya, berdasar beberapa saran temannya, aku tetap harus naik kereta. Begitu kata temanku. Aku pun terkejut.
Memahami perubahan raut mukaku, ia menawarkan untuk mengantarkan sampai ke terminal bus Damri Pasar Minggu. Tentu saja, itu sedikit
melegakanku.
Tepat jam 10.43
WIB kami sampai di Stasiun Universitas Indonesia, pasca tak berapa
lama menunggu, kereta api
kami pun tiba. Kali ini kereta sangat lenggang, tak seperti sebelumnya yang sesak
dan saling dorong. Aku
jadi penasaran, kenapa kali ini
penumpang tak begitu ramai ?
Sampai
di Terminal Pasar Minggu, aku baru sadar bahwa ketidaksukaanku
untuk naik moda
kereta api hanyalah kesan emosional sesaat saja, berdasar
pengalaman yang minim
pula. Pengalaman naik kereta api pada saat jam sibuk (berangkat dan pulang
kerja karyawan di Jakarta) dan aktivitas pergi-pulang para pelajar, tidak bisa
disamakan dengan waktu lain.
Mungkin
begitulah. Pengenalan kita
terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan, terkadang
membuat kita mempunyai kesimpulan menyeluruh terhadapnya. Kita sering memberikan penilaian--prasangka--buruk kepada
seseorang, hanya karena kesan pertama kita saat berjumpa. Padahal, kita belum
mengenalnya secara baik.
Bisa
saja saat kita bertemu, ia memiliki masalah yang membuat pikirannya berkecamuk. Don't judge a book by its
cover, ujar sebuah pepatah yang mengajarkan kita agar
tidak hanya sesaat untu bisa memberikan
penilaian kepada sesuatu.
Berapa banyak di antara
kita, yang akibat memelihara penilaian sesaat, terjerumus ke dalam jurang kehinaan akibat kesalahan
mereka sendiri. Seperti yang aku alami ini. Keenggananku untuk menumpang kereta
api yang pada akhirnya merepotkan seorang teman justru membuatku menjadi malu
kepadanya. Arkian, aku tarik
kembali ikrarku, bahwa naik moda
kereta
api itu bukanlah hal yang terlarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar